Hadits Shahih IMAM  ‘Ali as KHALIFAH SEPENINGGAL NABI Saww

Selama ini yang kita ketahui mengenai dalil kepemimpinan Imam ‘Ali as diantaranya adalah hadits Ghadir Khum. Tapi beberapa pihak menilai bahwa hadits itu bukan mengenai kepemimpinan, melainkan hanya menunjukkan kedekatan atau keutamaan Imam ‘Ali as di sisi Rasulullah Saw. 

Mengapa? Karena perbedaan interpretasi terhadap kata “maula”. Hak mereka jika memaknai kata “maula” dalam hadits Ghadir Khum sebatas kekasih atau kerabat. Baiklah, kata “maula” bisa dimaknai lain oleh mereka, tapi tidak untuk kata “khalifah”.
Ternyata kami menemukan dalam referensi hadits di sisi Sunni, bukan hanya ada kata “maula”, tapi bahkan ada kata “khalifah” untuk Imam ‘Ali as. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui hadits ini. 
Dalam kitab Al-Sunnah, karya Ibn Abi ‘Ashim, juz 2, hlm. 565, terdapat riwayat no. 1188, berikut:
ثنا محمد بن المثنى حدثنا يحيى بن حماد عن أبي عوانة عن يحيى ابن سليم أبي بلج عن عمرو بن ميمون عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لعلي أنت مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنك لست نبيا إنه لا ينبغي أن أذهب إلا وأنت خليفتي في كل مؤمن من بعدي.
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsanna; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamad dari Abi ‘Awanah dari Yahya bin Sulaim Abi Balj dari ‘Amr bin Maimun dari Ibn ‘Abbas yang berkata; Rasulullah SAW bersabda kepada ‘Ali:
“Kedudukanmu di sisiku sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya aku pergi kecuali engkau sebagai KHALIFAHKU bagi setiap mukmin setelahku.”

______________
Status hadits
Syaikh Nashiruddin Al-Albani dalam kitab Zhilal Al-Jannah fi Takhrij Al-Sunnah, juz 2, hlm. 565, mengomentari riwayat tersebut berikut:
إسناده حسن
Sanadnya hasan.
Setelah menilai hasan, Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa riwayat tersebut perawinya tsiqah dan diriwayatkan oleh para perawi Bukhari dan Muslim kecuali Abi Balj yang namanya adalah Yahya bin Sulaim.
Saya tidak setuju terhadap Syaikh Al-Albani yang menilai hadits tersebut hasan. Hadits tersebut shahih, bukan hasan. Mengapa? karena Yahya bin Sulaim adalah perawi yang tsiqah.
Ibn Hajar Al-‘Asqalani dalam kitab Tahdzib Al-Tahdzib, jld. 7, hlm. 319-320, pada biografi Abi Balj yakni Yahya bin Sulaim, menyebutkan keterangan berikut:
وقال ابن معين، وابن سعد، والنسائي، والدارقطني: ثقة.
Ibn Ma’in, Ibn Sa’ad, Al-Nasa’i, dan Al-Daraquthni menyatakan ia tsiqah. 
قال أبو حاتم: صالح الحديث، لا بأس به.
Abu Hatim berkata: “Haditsnya baik, tidak ada masalah padanya”.
قال إبراهيم بن يعقوب الجوزجاني، و أبو الفتح الأزدي: كان ثقة.
Ibrahim bin Ya’qub Al-Jauzajani dan Abu Al-Fath Al-Azdi menyatakan bahwa ia tsiqah.

______________
Kesimpulan
Hadits tersebut berstatus shahih. Jika pun kita menerima penilaian Al-Albani bahwa hadits tersebut statusnya hasan, maka tetap bisa dijadikan hujjah.

______________
Referensi:
📗Al-Hafizh Abi Bakr ‘Amru bin Abi ‘Ashim Al-Dhahhak bin Mukhallad Al-Syaibani, Al-Sunnah, cet. 1, juz 2 (Damaskus: Al-Maktaba Al-Islami, 1400 H/1980 M), riwayat no. 1188, hlm. 565.
📗Muhammad Nashir Al-Din Al-Albani, Zhilal Al-Jannah fi Takhrij Al-Sunnah, cet. 1, juz 2 (Damaskus: Al-Maktaba Al-Islami, 1400 H/1980 M), komentar riwayat no. 1188, hlm. 565.
📔Al-Hafizh Abi Al-Fadhl Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Syihab Al-Din Al-‘Asqalani Al-Syafi’i, Tahdzib Al-Tahdzib, tahqiq oleh ‘Adil Ahmad ‘Abd Al-Maujud dan ‘Ali Muhammad Mu’awwad, cet. 1, juz 7 (KSA: Wizarah Al-Awqaf Al-Su’udiyyah, 1425 H/2004 M), biografi no. 9447, hlm. 319-320.